MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL
A. Manusia sebagai
Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Pada dasarnya,manusia adalah makhluk
individu manusia yang merupakan bagian dan unit terkecil dari kehidupan sosial
atau manusia sebagai makhluk sosial yang membentuk suatu kehidupan masyarakat,
manusia merupakan kumpulan dari berbagai individu. Adapun uraian lebih lanjut
mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial adalah sebagai
berikut:
1. Manusia sebagai Makhluk Individu
Manusia adalah makhluk yang
diciptakan oleh Allah swt. yang pada hakikatnya mereka sebagai makhluk
individu. Adapun yang dimaksud individu menurut(Effendi, 2010: 37) adalah
berasal dari kata in dan divided. Dalam bahasa Inggris in mengandung pengertian
tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi
atau satu kesatuan. Dalam hal ini, artinya bahwa manusia sebagai makhluk
individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan rohani atau fisik dan psikologis,
apabila kedua aspek tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tersebut
tidak dapat dikatakan sebagai individu.
B. Masyarakat dan
Komunitas
Dalam kehidupan sebagai makluk
individu dan sosial, manusia selalu berhubungan dan tidak dapat lepas
dengan masyarakat dan komunitas. Sering kali penggunaan kedua istilah tersebut
tertukar dalam penggunaannya, padahal pada hakikatnya kedua istilah tersebut
tidaklah sama. Terdapat perbedaan mendasar antara kedua konsep tersebut, dan
untuk mengetahui lebih lanjut, berikut akan penulis sajikan beberapa devinisi masyarakat
dan komunitas menurut para ahli sebagai berikut.
1. Masyarakat
Krech, Crutchfield, dan Ballachey
(Effendi, 2010: 59) mengemukakan devinisi masyarakat sebagai ”a society is that
it is an organized collectivity of interacting people whose actives become
centered around a set of common goals, and who tend to share common beliefs,
attitudes, and of action.” Dari devinisi tersebut dapat ditarik kesimpulan
unsur-unsur yanga ada dalam masyarakat adalah kolektivitas interaksi manusia
yang terorganisasi, kegiatannya yang terarah pada sejumlah tujuan yang sama,
memilikin kecenderungan untuk memiliki keyakinan, sikap, dan bentuk tindakan
yang sama. Dalam hal ini, interkasi dan tindakan itu tentu saja interaksi serta
tindakan sosial.
Menurut konsep di atas, karakteristik
dari masyarakat itu adalah adanya sekelompok manusia yang menunjukan perhatian
bersama secara mendasar, pemeliharaan kekekalan bersama, perwakilan menusia
menurut sejenisnya yang berhubungan satu sama lain secara berkesinambungan.
Dengan demikian, relasi manusia sebagai suatu bentuk masyarakat itu tidak
terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan secara berkesinambungan dalam waktu
yang relatif cukup lama.
Dari beberapa devinisi di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat merupakan
kelompok atau kolektivitas manusia yang melakukan hubungan, bersifat kekal,
berlandaskan perhatian dan tujuan bersama, serta melakukan jalinan secara
berkesinambungan dalam wkatu yang relatif lama yang menempati kawasan tertentu.
2. Masyarakat Setempat/ Komunitas
Masyarakat setempat atau komunitas
merupakan bagian kelompok dari masyarakat dalam lingkup yang lebih kecil, serta
ikatan kebersamaannya yang kuat dan lebih terikat oleh tempat.
Adapun menurut Prof. Dr. Soerjono
Soekanto (Effendi, 2010: 62) istilah community dapat diterjemahkan sebgai
masyarakat setempat, istilah ini menunjuk pada warga-warga sebuah desa, sebuah
kota, suku atau suatu bangsa. Apabila anggota-anggota suatu kelompok hidup
bersam sedemikian rupa sehingga mereka merasakan bahwa kelompok tersebut dapat
memenuhi kepentingan-kepentingan hidup yang utama, maka kelompok tadi dapat
disebut masyarakat setempat. Intinya mereka menjalin hubungan sosial.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat setempat adalah suatu
wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan social yang
tertentu. Jadi dasar-dasr dari masyarakat setempat adalah lokalitas atau
wilayah, perasaan sepenanggungan dan hubungan sosial tertentu yang merupakan
perasaan saling ketergantungan .
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa devinisi masyarakat dengan
masyarakat setempat/ komunitas. Devinisi masyarakat sifatnya lebih umum dan
lebih luas, sedangkan devinisi masyarakat setempat lebih terbatas dan juga
dibatasi oleh area kawasan serta sejumlah warganya. Ditinjau dari aktivitas
hubungannya dan persatuan lebih erat masyarakat setempat dibandingkan dengan
masyarakat.
Lebih lanjut dalam kehidupan
masyarakat, Ferdinand Tonnies (Effendi, 2010: 65) mengemukakan pemnbagian
masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainchaft dan geselshaft. Masyarakat
gemainchaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat dimana
anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lainnya dan biasanya
cenderung sebagai refleksi masyarakat pedesaan. Sedangkan masyarakat geselshaft
atau patembeyan ikatan-ikatan diantara anggota anggotanya kurang kuat dan
bersifat rasional, biasanya cenderung sebagai refleksi masyarakat perkotaan.
C.
Dilema antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat
Individu
yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau golongan dan kepentingan
masyarakat yang termasuk kepentingan rakyat . Dalam diri manusia, kedua
kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu
kepentingan tersebut hilang dari diri manusia, akan terdapat satu manusia yang
tidak bisa membedakan suatu kepentingan, jika kepentingan individu yang hilang
dia menjadi lupa pada keluarganya, jika kepentingan masyarakat yang dihilangkan
dari diri manusia banyak timbul masalah kemasyarakatan contohnya korupsi.
Inilah yang menyebabkan kebingungan atau dilema manusia jika mereka tidak bisa
membagi kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Dilema anatara
kepentingan individu dan kepentingan masyarakat adalah pada pertanyaan mana
yang harus diutamakan, kepentingan manusia selaku individu atau kepentingan
masyarakat tempat saya hidup bersama? Persoalan pengutamaan kepentingan
individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi
paham/aliran bahkan ideologi yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat.
Kita semua berharap pada setiap perubahan
jaman yang akan mewujudkan harapan dan cita-cita setiap individu sebagai
personalitas dan masyarakat sebagai komplementer. Karena terwujudnya suatu
tatanan kehidupan yang harmonis dalam suatu lingkungan yang damai adalah
harapan setiap insan di dunia dan meskipun dengan meniadakan sama sekali
terjadinya konflik adalah suatu hal yang tidak mungkin disebabkan banyaknya
kepentingan individu (egoistis, atomistis) dalam mencapai tujuannya dan
individu didalam suatu masyarakat (kolektivistis) terkadang memungkin
terjadinya konflik dan penyerapan konflik diupayakan melalui hasrat yang
bersifat mengatur atau menjaga keseimbangan karena apabila tidak suatu fungsi
yang mengatur atau menjaga keseimbangan maka kedua kepentingan tersebut akan
tidak dapat dikendalikan.
Sumber :
http://rianrna.blogspot.com/2014/11/manusia-sebagai-makhluk-individu.html
http://manusiabudaya.blogspot.com/2012/03/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan.html

Komentar
Posting Komentar